OPINI
Oleh: Fahmi
Pendidikan seharusnya menjadi pilar utama dalam mencerdaskan bangsa, tetapi ironisnya, berbagai kebijakan yang diterapkan justru memperburuk kualitas pendidikan itu sendiri. Program sekolah gratis, keberadaan Komnas HAM yang sering kali terlalu protektif, serta kebijakan jam pulang sekolah hingga jam dua siang adalah contoh nyata dari bagaimana regulasi yang tidak matang dapat membawa dampak negatif.
Pertama, sekolah gratis seharusnya menjadi solusi untuk pemerataan pendidikan, tetapi dalam praktiknya, banyak sekolah justru mengalami penurunan kualitas. Kurangnya dana operasional yang memadai membuat fasilitas sekolah terbengkalai, tenaga pengajar kurang dihargai, dan motivasi belajar siswa menurun. Gratis bukan berarti tanpa biaya, karena kualitas tetap membutuhkan investasi.
Kedua, peran Komnas HAM dalam melindungi hak-hak siswa terkadang berlebihan hingga membuat disiplin di sekolah melemah. Guru yang seharusnya menjadi figur otoritatif dalam mendidik kini dibatasi oleh aturan yang mengekang, sehingga sulit untuk memberikan pendidikan yang tegas dan berorientasi pada karakter. Akibatnya, banyak siswa menjadi kurang menghargai aturan dan lebih sulit diarahkan.
Ketiga, kebijakan jam pulang sekolah hingga jam dua siang justru bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, siswa mendapat waktu lebih banyak di sekolah, tetapi di sisi lain, efektivitas pembelajaran bisa dipertanyakan. Jika metode pengajaran masih monoton dan hanya menambah jam pelajaran tanpa inovasi, yang terjadi hanyalah kelelahan tanpa hasil yang signifikan.
Secara keseluruhan, program sekolah gratis, intervensi yang berlebihan dari Komnas HAM, serta kebijakan jam pulang sekolah yang kurang dipikirkan matang, hanya akan semakin merusak sistem pendidikan. Solusinya bukan sekadar memberikan sekolah gratis atau menambah jam belajar, tetapi juga meningkatkan kualitas pengajaran, memperbaiki kurikulum, serta memberikan keseimbangan antara hak dan kewajiban dalam dunia pendidikan. Jika tidak, pendidikan kita akan terus merosot, menghasilkan generasi yang jauh dari harapan.
Post a Comment